“Winner’s Mentality”

Editor’s Note: Berikut ini adalah guest post Ardhana Bayurindra dari Into The Zone

‘Winner’s Mentality’

Bob Reese, penulis buku “Winner’s Mentality” adalah seorang Dosen di bidang Psikologi di Jefferson College of Health Sciences di Roanoke, Virginia-USA. Bersama istrinya dia mendirikan Reese Resolution Services (RRS), sebuah firma konsultan pendidikan yang berbasis pada coaching dan conseling sebagai upaya peningkatan performa pribadi maupun korporasi. Bob dalam karirnya sebagai head athletic trainer untukNew York Jets (National Football League/NFL di Amerika) selama lebih dari dua dekade mengungkapkan bahwa, dengan menggunakan sports analogies dia dapat mempelajari efektifitas dari “5 Essential Mental Skills”. Menurut Bob, mental skills training dapat lebih nyata di olahraga karena lebih mudah diidentifikasi dan diukur. Namun lebih jauh dia mengatakan bahwa sesungguhnya “5 Essential Mental Skills” adalah ‘life skills’. Suatu ketrampilan hidup yang teraplikasi ke dalam performa dan prilaku kita. Artinya kalau seseorang mau mencoba mengidentifikasi permasalahan dirinya dan menerapkan “5 Essential Mental Skills” ini ke dalam kehidupannya, maka dia dapat menambah performanya sekaligus meningkatkan aspek manapun dalam hidupnya.

Saya kenal Bob saat dia menjadi guru dan mentor kami di kelas Sports Hypnotherapy -salah satu certified training yang diselenggarakan oleh the National Guild of Hypnotist(NGH)- pada Summer 2010 lalu. Training yang dibawakannya melatih dan mengajarkan kami untuk senantiasa bersikap positif, bahkan saat menghadapi situasi sulit sekalipun. Kami dilatih dengan cara mengenakan karet gelang pada pergelangan tangan kami dan setiap kali muncul pikiran, perkataan spontan, ataupun sikap yang cenderung negatif apalagi terhadap diri sendiri, maka segera karet gelang itu ditarik kuat lalu….”jetet!”, langsung kulit pergelangan tangan kami memerah dan perih. Karet gelang ala Amerika ini harus tetap kami kenakan sepanjang minggu pelatihan mental dan harus dihitung berapa rata-rata ‘pelanggaran’ yang kami lakukan sehingga harus ‘dihukum’ dengan men-jetetdiri kami. Bagaimana hasilnya? Rata-rata para peserta training (kecuali saya) mengatakan bahwa pada hari-hari pertama menggunakan gelang itu, mereka melakukan pelanggaran hingga 40 kali! Sementara saya, karena menyadari bahwa karet gelang itu bisa cukup pedas di kulit, maka segera saya membiasakan diri untuk tidak mengritik negatif diri saya ataupun hal lain di luar diri dan dengan extra upaya, saya berusaha mencoba merubah cara saya mengritik. Awalnya melelahkan, semakin lama menjadi jauh lebih mudah. Oya, saya cukup merasakan rata-rata 15 pelanggaran sehari di awal-awal pelatihan itu (ini jujur lho!). Pembelajaran yang cukup berarti. Sederhana, namun mampu melatih diri untuk mengendalikan cara pikir dan sikap spontan yang kadang kala bisa negatif.

Bila ini dihubungkan dengan pelatihan Bob, maka ada 5 esensi ketrampilan mental yang saya pelajari di sini:

  1. The art and sciences of Goal Setting; agar bisa melewati hari itu dengan pelanggaran se-sedikit mungkin, maka saya harus mempersiapkan target pencapaian keberhasilan dalam mengendalikan cara pikir dan sikap saya. Tidak semata-mata hanya memikirkannya, namun juga harus dapat dipetakan dalam hitungan yang lebih spesifik (ternyata membutuhkan tantangan tersendiri).
  2. Visualization; setelah memiliki target pencapaian, saya harus menanamkan kebulatan tekad saya. Maka untuk memudahkan saya menjalani hari itu, saya mulai mengkreasi imajinasi keberhasilan saya dengan cara mem-visualisasikannya. Ini saya pahami kemudian sebagai bagian dari persiapan menuju ‘peperangan’ hingga menyambut ‘kemenangan diri’.
  3. Energy Management; saat kita sudah menetapkan batasan lintasan alam pikir kita, maka secara otomatis energi yang dikeluarkan untuk beraktivitas seolah menjadi lebih terukur. Saat itulah saya menyadari betapa kita seringkali menyia-nyiakan energi kita untuk hal-hal yang kurang produktif atau bermanfaat. Sangat penting artinya bagi kita agar dapat mengelola energi yang tersedia dalam diri untuk menghasilkan lebih. Ibaratnya teknologi bohlam jaman sekarang yang dikatakan lebih hemat, bohlam 20 watt kini setara dengan kekuatan cahaya bohlam 100 watt dari teknologi sebelumnya. Menandakan telah tercapainya proses pengelolaan energi secara benar.
  4. Effective Thinking; satu hal yang menjadi tantangan terberat adalah pikiran. Sekalipun koridor alam pikir kita seolah sudah diintegrasi ke dalam konsep yang terarah, tetap saja dibutuhkan upaya stabilisasi. Bagaimana pola pikir saya selama ini? Jawabnya, “tidak efektif”. Jadi yang saya lakukan adalah mencoba menyederhanakan pikiran yang kerap bercabang (terutama untuk tipe kepribadian saya yang ‘N’ ini), bukan menggampangkan sesuatu tetapi belajar untuk mengoptimalkan daya pikir dengan tujuan yang tepat. Artinya, belajar berpikir secara konstruktif.
  5. Mental toughness; last but not least, adalah ujung dari pembelajaran ini. Upaya yang dilakukan dalam beberapa hari tersebut adalah untuk membentuk mental diri yang kuat. Sedikit berbeda dengan cara yang dilakukan menggunakan gaya militer, proses yang dijalani ini lebih bersifat intrinsik. Pembenahan dari dalam diri yang bersifat menyeluruh, dan terintegrasi. Bagaimana saya bisa mengendalikan diri saya secara tepat dalam menjalani satu situasi adalah tujuannya. Bagaimana seorang atlit mampu mempertahankan konsistensi permainannya, bahkan dapat meningkatkannya dengan daya optimal adalah tujuan dari pembelajaran “5 Essential Mental Skills” ini. Kemampuan diri kita secara menyeluruh untuk mengendalikan emosi, mempertahankan hingga menajamkan fokus dan konsentrasi, mengatasi persoalan dengan pengelolaan energi secara efektif adalah modal utama daya tahan diri.
    Me and Bob at the 2010 NGH Convention, Marlborough, MA-USA

    Me and Bob at the 2010 NGH Convention, Marlborough, MA-USA

Ketrampilan mental yang diajarkan oleh Bob, bisa diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari kita bahkan dalam ruang lingkup sederhana sekalipun. Berangkat dari dasar keinginan untuk mencapai atau memperoleh sesuatu, menuntun kita pada langkah selanjutnya -apakah mau melakukannya?-. “Where there is a will, there is a way. While others stay, we drill”.

Salam dari alam bawah sadar Anda!

Ardhana Bayurindra adalah konsultan hipnoterapi dari Daya Insani. Anda dapat membaca artikel-artikel menarik mengenai hipnosis dan hipnoterapi yang ditulis olehnya di blog beliau Into The Zone.

Tagged with: , ,
Posted in Hypnotherapy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


1 + = 6