Rutinitas Tak Akan Membosankan, Asal…

Kerutinan dalam mengurus rumah tangga kerap membosankan kaum ibu. Padahal hidup rutin pun konon diperlukan sebagai pertanda hidup yang sehat dan sejahters.

Aduh, aku bosan di rumah terus,” begitu keluhan yang kerap terdengar dari Dina, ibu rumah tangga yang memilih untuk tinggal di rumah mengurus tiga balitanya. Tadinya Dina bekerja sebagai staf ahli bidang keuangan di sebuah BUMN. Didorong oleh idealismenya, setelah kelahiran Dito, anak keduanya, Dina memutuskan untuk berhenti bekerja agar dapat mencurahkan seluruh waktunya mengurus sang buah hati. Dina tak menyangka, keputusannya itu sekarang justru membuatnya terperangkap pada rutinitas yang membosankan.

Rutinitas, terang Zainoel B. Biran, berkaitan dengan sesuatu yang berlaku sama dari hari ke hari. “Sebenarnya banyak hal dalam hidup kita yang memang rutin. Contohnya, detak jantung yang berdetak setiap kali. Jadi sesuatu yang rutin selalu ada saja dalam kehidupan manusia.” Oleh sebab itu, tak semua yang berkaitan dengan rutinitas selalu mengganggu. “Sebagian orang malah tak terganggu sama sekali dengan kehidupannya yang rutin. Bahkan mereka enak saja menjalani hidup yang sama dari hari ke hari,” lanjutnya.

Sebuah penelitian membuktikan, seseorang yang menjalani kehidupannya dengan rutin seringkali menunjukkan tanda-tanda yang sehat. “Dia teratur, stabil, kehidupannya tak bergejolak, tingkah lakunya mantap, dan kesehatannya pun baik,” tambah psikolog sosial dari Fakultas Psikologi UI ini. Kalau kemudian Dina menjadi bisan pada rutinitas yang dijalaninya, itu tak lain karena Dina termasuk orang yang suka perubahan.

“Untuk orang yang menyukai variasi dan perubahan, rutinitas mudah sekali membuatnya tenggelam dalam kebosanan,” ujar Bang Noel, panggilan Zainoel. Tentu bukan sesuatu yang salah bila orang menyukai perubahan, karena manusia pada dasarnya juga menyukai kedinamisan dalam hidupnya. Cuma faktor umur dan menyusutnya tenaga sajalah yang mampu memperlambat kedinamisan manusia.

PERBEDAAN TIPE JADI MASALAH

Yang kerap menjadi masalah adalah bila rutinitas tersebut sudah mulai mengancam kehidupan perkawinan. Hal ini biasanya terjadi bila salah satu pihak sudah merasa pengap dengan situasi dalam rumah. Akibatnya, muncullah berbagai konflik. “Konflik cepat timbul bila dua orang yang tinggal dalam satu rumah menyukai hal yang berlainan atau mempunyai tipe yang berbeda,” terang Bang Noel.

Apalagi bila perbedaan ini terlalu ekstrem, sehingga kemungkinan muncul masalah akan menjadi lebih besar. Lain halnya jika keduanya sama-sama menyukai kerutinan atau sama-sama menyukai perubahan, maka tak akan jadi masalah. Tentunya, supaya salah satu pihak tak terkaget-kaget dengan variasi ataupun kerutinan yang diinginkan pasangan, sebaiknya saat masa pacaran digunakan untuk saling mengenal. “Termasuk mengenal kecenderungan pribadi masing-masing. Harus ada persiapan untuk melihat-lihat perbedaan. Sambil melihat, apakan perbedaan-perbedaan itu dapat dikompromikan atau saling memanfaatkan.”

Misalnya, bila yang satu menyukai rutinitas, sementara pasangannya senang dengan hal-hal yang baru. Nah, keduanya bisa saling memanfaatkan. “Orang yang menyukai rutinitas bisa belajar hal-hal yang baru. Sebaliknya, pasangannya yang senang variasi, bisa jadi sedikit santai dengan menjalani hal-hal yang rutin dan tak selalu terobsesi dengan perubahan.” Jadi, kalau di masa pacaran tipe-tipe pasangan sudah diketahui lebih dahulu, hal ini dapat dikompromikan untuk mencari titik temu.

KELUARKAN UNEK-UNEK

Bila kebosanan akibat rutinitas sudah mulai mengancam, saran Bang Noel, seyogyanya setiap pasangan berusaha cepat-cepat keluar dari perangkap rutinitas tadi. “Sebab kebosanan akibat rutinitas akan merembet dan berkembang menjadi masalah-masalah yang lebih besar.” Yang pertama mesti dilakukan adalah memulai menjalin lagi komunikasi yang baik dengan pasangan. Bisa saja selama ini obrolan tetap berjalan, tapi belum tentu unek-unek yang sebenarnya tercetuskan.

Jadi mulailah bicara. Mulailah dari yang ringan-ringan hingga suasana menjadi akrab, baru mulai dicetuskan unek-unek tersebut. “Kenapa, sih, aku, kok, mulai bosan dengan kamu atau aku mulai bosan dengan suasana rumah? Apa, sih, yang membuat aku bosan?” Bisa saja kebosanan itu timbul karena kita selalu mendapat respon yang sama dari pasangan kita.

Kadang, kita pun membutuhkan reaksi yang berbeda dari pasangan. Nah, ini harus diomongkan. Yang pasti, ujar Bang Noel, jangan memulai pembicaraan dengan nada tinggi, namun usahakan komunikasi yang enak. Dengan demikian, setiap pihak bisa saling merasakan kebutuhan pasangannya masing-masing. “Kalau komunikasi terus dijalankan seperti ini, bukan mustahil masing-masing akan tetap merasa terikat, meskipun kehidupan perkawinan terasa rutin.”

Bila komunikasi sudah cukup lancar dan unek-unek sudah dikeluarkan, gunakan kesempatan ini untuk mencari solusi agar bisa bersama-sama keluar dari rutinitas tersebut. “Bisa dengan cara pergi berdua, seperti second honeymoon, atau salah satu pihak menarik pasangannya untuk memperhatikan dan mempelajari hal-hal yang selama ini jadi hobinya.” Namun yang tak boleh dilupakan pula, jangan sekali-kali membawa kepengapan di kantor ke rumah.

“Sering kita bosan dengan urusan kantor dibawa ke rumah. Akibatnya, pasangan yang sebenarnya tak berminat dengan urusan kita, jadi ikut kena getahnya.” Selain itu, bila urusan kantor dibawa ke rumah, maka berarti membawa tekanan rutinitas di kantor ke rumah. Akibatnya, bosannya jadi dua kali. “Sebaiknya, begitu terasa rutin di kantor, rumah bisa menjadi pelepasan. Untuk orang yang menyukai perubahan pun, kesibukan di kantor atau di luar rumah yang kerap membutuhkan kompetisi tersebut, ia akan merindukan sesuatu yang statis dan rutin begitu kembali ke rumah.

Karena kalau di luar dinamikanya naik-turun, lantas di rumah pun ia menuntut perubahan, lama-lama akan capek juga. “Demikian pula bila kita merasakan rutinitas dalam kehidupan seks. Bukan dengan mencari pasangan baru, tapi “minta pasangan kita untuk mengubah penampilannya. Bisa juga dengan bersama-sama mencari gaya bercinta lain. Hal ini akan membantu menghindarkan kita dari rutinitas dan rasa bosan dengan pasangan,” nasihat Bang Noel.

WAKTU UNTUK DIRI SENDIRI

Tak ada salahnya jika rutinitas mulai mengancam, kita “berlari” sejenak. Misalnya, dengan menggunakan waktu untuk merenung atau menyenangkan diri sendiri. “Seorang istri dan ibu pun, kalau merasa jenuh, boleh saja meminta waktu untuk dirinya sendiri. Misalnya dengan berkunjung ke rumah kawannya untuk mengobrol, atau membaca novel kesayangannya di kebun belakang,” kata Bang Noel.

“Kesendirian” ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengintrospeksi diri. Melihat apa yang menjadi kebutuhannya dan apakah ia sudah peka dengan kebutuhan pasangannya. Apa sebenarnya yang menjadi kesulitan atau problemnya. Dari introspeksi ini biasanya akan muncul solusi yang baik. Mengamati perkembangan anak pun bisa dijadikan variasi lain dalam mengatasi kebosanan akibat kerutinan.

“Anak juga bisa menjadi pencair kepengapan di dalam rumah. Kalau kita perhatikan anak setiap harinya, Maka perubahan yang terjadi pada anak bisa menjadi sumber penyegaran, lo,” tutur Bang Noel. Jadi, anggapan bahwa anak sebagai sumber kebosanan dan rutinitas di rumah itu salah. “Kalau ada orang tua yang mengatakan bahwa anak-anak menjadi sumber kebosanan dan rutinitas di dalam rumah, malah perlu dipertanyakan. Itu berarti tak ada kasih sayang pada anak. Merekan tak pernah mencoba dekat dengan anak. Padahal anak itu, kan, dinamis, orang tua akan senang melihat aktivitas anak-anak itu.”

MENCOBA MENERIMA

Namun yang paling baik dilakukan, ujar Bang Noel, adalah menerima rutinitas sebagai bagian dari kehidupan kita. “Yang harus disadari, perkawinan itu memang hal yang rutin, yang harus selalu dijalani bersama. Kalau tidak menemukan suasana baru, sebaiknya diterima dan bukan dijadikan masalah.

Kalau kita melihat perkawinan itu sudah seharusnya dijalankan, ya, memang itu yang harus diterima. “Yang penting, masing-masing pihak tahu kebutuhan pasangannya, sehingga bisa saling mengerti. Setiap rumah tangga, lanjut Bang Noel, memang harus menghadapi rutinitas, karena tak setiap pasangan mampu untuk setiap kali berganti suasana atau bulan madu. “Lha, kalau bosan di rumah, enggak usah pulang saja, ah. Kan, tidak begitu. Jadi kerutinan dan kebosanan itu harus diterima juga.

Try to live with it sambil tetap mencari jalan agar suasana yang membosankan itu tetap dapat dinikmati. “Jadi, tandas Bang Noel, resep terbaik adalah dengan menganggap rutinitas sebagai hal yang tak bisa dipisahkan dari hidup kita. “Yang penting, cari variasi-variasi untuk mencegah kita terperangkap di dalamnya. Bila mulai terasa pengap, segera komunikasikan dengan pasangan.”

Kalau tidak, selain akan menimbulkan konflik, juga akan berdampak pada anak. “Anak akan bisa merasakan apa yang terjadi pada ayah-ibunya. Bagi anak-anak, kalau suasana di antara orang tuanya selalu terjalin dengan penuh keakraban, maka dia akan tumbuh dalam lingkungan yang menyenangkan. Ia akan tumbuh menjadi anak yang ceria dan gembira.” Sebaliknya, begitu ayah-ibunya sudah mulai ngomong ketus, anak akan menangkap suasana itu. Jadi, sebelum terjebak dalam kebosanan, segera cari solusinya, ya, Bu-Pak, supaya anak-anak tak terganggu.

http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Pasangan/Rutinitas-Tak-Akan-Membosankan-Asal

Zainoel B. Biran adalah Konsultan Senior di PT. Daya Insani, Konsultan Psikologi & Hipnoterapi

“Chains do not hold a marriage together. It is threads, hundreds of tiny threads which sew people together through the years.” - Simone Signoret

Dengan label: , , , ,
Ditulis di Artikel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*


1 + 7 =