Positif dan Negatif Anak Dekat Dengan Pengasuh

Sibuk bekerja di luar rumah menuntut orang tua untuk selalu meninggalkan si kecil bersama pengasuhnya di rumah. Akhirnya tak sedikit di antara anak-anak ini yang kemudian lengket dengan pengasuhnya. Selain nilai plus, ternyata kondisi seperti ini juga memunculkan nilai minus. Apakah itu?

Orang tua jaman sekarang banyak yang berkarier di luar rumah. Hal ini menuntut mereka untuk ‘terpaksa’ meninggalkan sang buah hati di rumah, dan untuk waktu cukup lama. Jika ada nenek, kakek, atau kerabat lain yang bisa dimintakan bantuan untuk menjaga si kecil, mungkin hal seperti ini tidak terlalu jadi masalah. Tapi ketika keluarga terdekat tidak ada, mencari tenaga pengasuh menjadi solusinya.

Kondisi seperti ini membuat tidak jarang menciptakan kedekatan emosional antara si kecil dan pengasuhnya. Ia menjadi lebih ‘lengket’ dengan pengasuhnya, ketimbang dengan orang tuanya. Tak sedikit di antara anak-anak tersebut lebih mendengarkan perkataan sang pengasuh dibanding orang tuanya. Mereka terlihat lebih riang dan gembira ketika bersama pengasuh, baik saat bermain, makan, maupun belajar.

Sebenarnya memiliki pengasuh yang tulus merawat, menjaga, dan menyayangi anak yang diasuhnya, bisa dibilang merupakan keberuntungan bagi orang tua yang bekerja di luar rumah. Hanya saja, sewaktu melihat kedekatan si buah hati dengan pengasuhnya, yang sangat ‘lengket’, tak bisa dielak ada rasa iri yang mengusik hati si orang tua.

Menurut Rengganis Lenggogeni, Psikolog dari PT. Daya Insani, yang menyebabkan anak bisa lebih dekat dengan pengasuh itu memang masalah emosi. “Dalam arti, anak bisa menjadi dekat dengan pengasuh karena anak senang dengan orang itu. Sebabnya beragam, bisa jadi karena setiap kemauan anak dituruti atau selalu mendapat senyum atau pengajaran yang menyenangkan dari pengasuhnya. Hal ini sama saja bila anak memiliki guru yang baik maka anak pasti senang dengan guru tersebut dan mematuhi apa yang dikatakan oleh gurunya. Jadi kedekatan itu tercipta atau terjalin karena melibatkan emosi anak,” tukas Rengganis.

Positif dan Negatif

Jadi dalam hal ini, orang tua tidak perlu merasa khawatir bila mereka melihat hal-hal yang positif dari si kecil yang ditularkan oleh pengasuhnya, seperti menjadi lebih mandiri, rajin, disiplin dan pintar secara akademis. Namun sebaliknya, kalau yang terlihat adalh hal-hal yang negatif, seperti anak jadi manja dan kurang mandiri, maka orang tua harus mengambil sikap. “Segeralah orang tua mengajak pengasuh bicara. Utarakan apa yang orang tua harapkan bagi tumbuh kembang si kecil. Sebenarnya ini kembali lagi sejauh mana pemahaman orang tua tentang pengasuhan anak,” tutur Rengganis lagi.

Dikatakan, soal pengasuhan anak itu adalah kewajiban orang tua, dalam hal ini Mom & Dad. Keduanya harus punya kesepakatan bersama tentang bagaimana mengasuh dan mendidik anak, termasuk di dalamnya tentang bagaimana penerapan disiplin pada anak, tentang tanggung jawab, tentang penerapan nilai-nilai agama, etika, moral, dan sebagainya.

Jadi, menurut Rengganis, sebaiknya anak memang diasuh oleh orang tuanya. Apalagi selagi anak masih usia batita, orang tua harusnya berada langsung untuk mengasuh si kecil. Tapi karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, dimana orang tua, dalam hal ini mommy harus bekerja di luar rumah, memang tidak ada pilihan lain kecuali menggunakan jasa pengasuh anak.

Di sinilah diperlukan komitmen orang tua untuk tetap melakukan pengawasan terhadap si kecil. Sebagai contoh, sepulang bekerja, sisihkan waktu untuk mengajak anak berbincang-bincang mengenai berbagai hal, termasuk apa yang dilakukannya pada hari itu. Lihat juga sikap anak, jika ada yang berubah dan mengarah pada hal yang negatif, orang tua harus segera menertibkan. “Jadi jika ada pengaruh yang kurang baik, orang tua bisa mendeteksinya sedini mungkin. Baik itu yang berasal dari pengasuhnya, atau pengaruh dari lingkungan sekitar.”

Intinya, sah-sah saja anak dekat dengan pengasuhnya, namun orang tua harus tetap menjalin kedekatan emosi dengan anak. Karena bagaimanapun bila kedekatan anak dan pengasuh didiamkan, tanpa adanya campur tangan dari orang tua, maka akibat yang muncul bisa beragam. Bisa terjadi anak kemudian akan memiliki rasa ketergantungan yang besar pada pengasuhnya, mulai dari minta minum, makan, mandi, mengambilkan pakaian, hingga mungkin mengerjakan PR.

Membangun Intelejensi Anak

Sebenarnya di tangan orang tua-lah, intelejensi seorang anak bisa dioptimalkan. Tapi ketika orang tua diharuskan menggunakan jasa pengasuh, dan dalam perjalanannya anak menjadi dekat dengan si pengasuh, maka yang terpenting adalah komunikasi orang tua dengan pengasuh harus terjalin dengan baik. “Karena biar bagaimanapun, pengasuh adalah pengganti orang tua saat tidak di rumah. Jadi orang tua pun harus bisa membuat si pengasuh nyaman untuk bekerja. Dan orangtua juga perlu melihat hasil baik dan tidak baiknya anak di tangan pengasuh. Kesemua tentu ada konsekwensinya,” tutur Rengganis.

Yang pasti orang tua harus berusaha untuk menyampaikan keinginannya kepada pengasuh dalam hal pola asuh anak. Antara orang tua dan pengasuh harus terjalin kerja sama dan kesamaan visi dalam mengasuh anak, sehingga anak menjadi tidak bingung. Merupakan kewajiban orang tua untuk membangun kerja sama yang positif dengan pengasuh agar tumbuh kembang si kecil bisa optimal, baik dari segi motorik, emosi, intelektual, serta sosial si anak kelak.

Rengganis Lenggogeni B., M. Psi

Konsultan dari Daya Insani, Konsultan Psikologi & Hipnoterapi, Jakarta

Artikel diambil dari Mom Dad & I, Edisi 12, Tahun III, Oktober 2011

“No man should bring children into the world who is unwilling to persevere to the end in their nature and education.” ~ Plato

Tagged with: ,
Posted in Media Posting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


9 + 9 =

WhatsApp chat