Pendapat Psikolog Tentang Pria Menduda

Setelah perkawinan porak poranda, banyak yang menyangsikan kalau pria mampu bertahan sendiri untuk waktu yang cukup lama. Biasanya mereka melenggang langsung ke gerbang pernikahan untuk yang kedua kalinya. Pilihan untuk segera kembali menikah memang menjadi lekat dengan kehidupan pria yang digambarkan tak mampu berlama-lama seorang diri. “Pendapat itu ada benarnya, tapi harus dilihat faktor-faktor penyebabnya,” demikian menurut Ajeng Raviando Psi. Berikut petikan wawancara ME Asia dengan beliau yang merupakan Psikolog PT. Daya Insani, Konsultan Psikologi dan Hipnoterapi.

Ada pendapat mengatakan: pria bisa lebih cepat atau lebih mudah mendapat pengganti mantan istri. Tetapi kenyataannya tak sedikit pria yang belum melepas predikat duda, bahkan setelah 5 tahun lebih menduda. Menurut Anda, seberapa benarnya pendapat tersebut?

Pernyataan tersebut benar, karena cepat atau lambatnya seorang duda mendapatkan istri lagi adalah satu tindakan dari keputusan yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor: pribadi, sosial/keluarga besar, dan anak (bila ada).

Faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan untuk menikah lagi?

Sebagai duda, keputusan untuk menikah lagi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tadi. Pertama faktor pribadi: menyangkut kebutuhan teman hidup. Kehidupan selama beristri telah menimbulkan pengalaman berbagi dalam berbagai segi kehidupan. Kalau ia merasa sulit dan semakin merasa lemah saat sendirian dalam menyelesaikan urusan-urusannya, tentu pemikiran untuk menikah bisa segera muncul. Segi pribadi yang lain adalah menyangkut kebutuhan biologisnya. Selain itu, keputusan untuk menikah lagi juga dipengaruhi oleh segala pengalaman yang terkait dengan perceraiannya, misalnya seberapa besar/seberapa dalam luka hati yang ia rasakan, sekaligus seberapa kuat kemauannya untuk mengobati luka itu.

Faktor kedua, sosial: seringkali lingkungan (teman, tetangga, keluarga besar) dengan “kacamatanya masing-masing” menganggap bahwa si duda (beserta anak, kalau ada) pasti mengalami banyak kesulitan, dan ingin membantunya. Biasanya bantuan berupa perhatian dan saran yang bisa diterima oleh si duda secara positif ataupun negatif. Misalnya mengingatkan pentingnya ibu bagi kehidupan anak.

Atau bila si duda mempunyai status sosial tinggi, lingkungan kadang menuntut adanya pasangan. Mungkin juga lingkungan secara nyata menjodoh-jodohkannya dengan wanita yang mereka anggap sesuai bagi si duda. Banyaknya campur tangan orang dalam kehidupannya membuatnya tidak nyaman, sehingga bisa mendorongnya untuk segera menikah lagi. Atau sebaliknya, dengan penuh percaya diri malahan ingin merengkuh segala urusan rumah tangganya, sendirian tanpa pasangan.

Faktor terakhir adalah anak: sudut pandangnya terhadap tumbuh kembang anak atau tenggang rasanya terhadap perasaan anak menghadapi ibu baru. Mungkin saja si duda merasa yakin bahwa tumbuh kembang anaknya akan lebih baik bila ia tangani sendiri, sehingga kebutuhan akan seorang istri ditunda sampai ia yakin bahwa tumbuh kembang anaknya sudah mantap sesuai dengan nilai-nilai yang dianggapnya baik. Tetapi kalau ia tidak yakin bisa membimbing anak dengan baik, mungkin ibu baru perlu segera dihadirkan.

Atau, si duda mampu merasakan bahwa anaknya belum siap menerima kehadiran ibu baru, dan ia menghormati/menjaga perasaan anak, pemikiran untuk menikah lagi tentu perlu ditunda.

Apakah bisa dikatakan suatu masalah ketika pria hingga lima tahun lebih menduda?

Menjadi duda sampai 5 tahun atau lebih, sangat tergantung pada pribadi masing-masing. Mungkin, mempertahankan status duda karena alasan ekonomi. Biaya lamaran, pesta nikah, biaya hidup istri (dan mungkin juga harus membiayai keluarga istri) dan kalau kemudian ada anak (lagi), tentu menjadi tanggung jawabnya. Mampukah si duda?

Kemungkinan lain, si duda sudah merasa nyaman dengan “kesendiriannya”, sehingga “malas” menyesuaikan diri dengan adanya “orang lain”. Memberi perhatian (kepada istri) mungkin sudah tidak lagi terbiasa, bahkan lebih ingin menerima perhatian. Jadi, kalau nanti istri tidak bahagia, bagaimana? Kemungkinan lain lagi, si duda merasa tidak pantas menikah lagi karena anak-anaknya sudah cukup besar, dan ingin mengajarkan sikap kesetiaan kepada anak-anaknya. Sedangkan untuk duda cerai mati, bisa saja ia merasa belum ada wanita yang sepadan dengan almarhumah istrinya.

Faktor apa saja yang menjadi penyebab pria menduda hingga lebih dari lima tahun? Trauma, takut berkomitmen, hanya ingin hubungan saja tanpa ikatan, atau pria tersebut memang bermasalah?

Hal-hal tersebut bisa saja merupakan penyebab pria menduda lebih dari 5 tahun. Tetapi bisa juga karena masalah lain, misalnya menetapkan berbagai ciri dan kualifikasi yang perlu dipenuhi oleh calon istrinya yang notabene sulit dipenuhi oleh wanita pada umumnya. Hal terakhir ini sebenarnya lebih merupakan proyeksi dari kelemahan pribadinya, yaitu pribadi yang suka menuntut, untuk menutupi kelemahan-kelemahannya sendiri.

Apa ukuran “berdamai” kepada hidup menduda lebih dari lima tahun itu?

Kalau si duda sudah lebih 5 tahun menduda tanpa masalah, misalnya: karier dan reputasi baik, jiwa-raganya sehat, pergaulannya normal, anak-anak tidak bermasalah, hubungan ayah-anak harmonis, tampaknya si duda sudah damai hatinya. Tetapi bila ia resah dengan statusnya yang sudah lebih 5 tahun, sebaiknya diskusikan masalahnya dengan orang yang ia percayai bisa membantu dan bisa merahasiakan pembicaraan mereka.

Artikel diambil dari ME Asia, No. 108 – 2010

Hasil wawancara dengan: Ajeng Raviando Psi, Psikolog PT. Daya Insani, Konsultan Psikologi & Hipnoterapi, Jakarta

______________________________

A big part of letting go is recognizing when it is time to stay in a situation and when it is time to move on. ~ Darren L. Johnson

Dengan label: , , ,
Ditulis di Artikel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*


4 + = 5