Ongkie Seorang ISFP

©Art & Design Montréal

Ongkie (bukan nama sebenarnya) beberapa kali gagal mengikuti pendidikan tinggi, sehingga membuat orangtuanya tak yakin akan pilihan bidang kuliahnya. Terakhir kali kuliah, ia merasa telah menemukan bidang studi yang ia inginkan, yang sesuai dengan passion dan aspirasi kerjanya, arts & designs. Tetapi orangtuanya ingin kepastian apakah pilihannya ini tidak keliru dan ia pada akhirnya akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Sebelumnya, ia sudah pernah mengikuti pendidikan arts & designs di Amerika. Namun, akibat kecelakaan karena seorang pengemudi yang mabuk, Ongkie gegar otak dan masuk rumahsakit, studinya pun terganggu. Setiap kali harus “berpikir keras” dalam mengembangkan ide rancangan dan menuangkannya menjadi karya grafis, kepalanya menjadi pusing dan kerjanya terusik. Akibatnya: Kuliahnya gagal.

Atas dorongan orangtuanya yang berharap dapat membantunya setiap kali diperlukan, ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Dokter ahli penyakit syaraf di Singapura dan di Indonesia punya kesimpulan yang sama: ada kerusakan otak yang menimbulkan gangguan berpikir. Setiap kali harus banyak berpikir, kepalanya menjadi sakit, yang bisa saja tidak tertahankan. Namun, karena keyakinannya terhadap bidang studi yang terakhir ia ikuti, Ongkie memutuskan untuk mengambil bidang kuliah arts & designs lagi di Indonesia. Sayangnya, ia harus mengundurkan diri karena indeks prestasi yang ia capai tak memenuhi persyaratan yang ada.

Sedih, galau, dan merasa tertekan. Tetapi ia masih ingin melanjutkan studinya. Karena telah yakin pada pilihannya, ia bersikeras untuk tetap belajar di bidang yang sama. Itu sudah dunia saya, panggilan hati saya! Sedangkan, orangtuanya ingin memastikan bahwa pilihannya memang tepat, agar “tidak lagi-lagi salah pilih” dan pasti akan berhasil menyelesaikannya. Selain agar tak sia-sia mengeluarkan uang untuk pendidikan anaknya, mereka juga tak ingin anaknya kecewa dan menjadi rendah diri. Karena hal-hal inilah Ongkie akhirnya sampai ke Daya Insani.

Ditilik dari MBTI (Myers-Briggs Type Indicator), Ongkie ternyata sudah memilih “dunia” yang memang sesuai dengan kecenderungan gaya pribadi dan minatnya. Ia bertipe kepribadian ISFP (Introvert, Sensing, Feeling, Perception). Orang bertipe ISFP biasa dijuluki “the artist”, setidaknya itu yang tertera di buku berjudul What Type Am I? Discover Who You Really Are karya Renee Baron (1998). Seorang ISFP adalah orang yang artistik, kreatif, loyal dan sensitif. Mempunyai apresiasi untuk hal-hal yang indah karena kepekaan inderanya. Mereka juga tampil pendiam dan rendah hati.

Ongkie senang melakukan kegiatan olah pikiran, merenung untuk merangkai gagasan-gagasan orang, dan kemudian menuangkan hasilnya ke dalam bentuk kreasi grafis. Itu semua dapat ia lakukan bila punya waktu yang longgar dan tak banyak aturan ketat. Sayangnya, bekerja di bidang yang ia minati terkadang harus memenuhi permintaan “pemesan”. Ia ingin fleksibilitas, mengikuti aturan baginya bisa menghambat kreatifitas. Sebagai insan yang cenderung introvert, Ongkie juga tak pandai berbicara dengan lancar, sukar mengungkapkan sesuatu sebelum pikirannya utuh. Ia bukan pula seorang yang bisa menjawab pertanyaan secara spontan, mengembangkan pikiran dengan seketika, dan berimprovisasi, selain itu juga sensitif terhadap penilaian orang lain. Oleh karena itu, sewaktu kuliah ia kerap menunda-nunda diskusi dengan dosen atau pembimbingnya dalam mengerjakan tugas atau mempersiapan presentasi yang harus ia selesaikan sesuai dengan batas waktu yang ada.

Selain itu, ada dorongan yang kuat padanya untuk menunda apa yang harus ia putuskan atau kerjakan, “menunggu” munculnya ilham yang “cemerlang” yang dapat ia tuangkan secara utuh. Semangatnya akan bergelora bila gagasan kreatif semacam ini telah muncul pada dirinya. Namun, kecenderungan menunda, dan akhirnya “menumpuk” tugas, ini pulalah yang agaknya menimbulkan “sakit kepala” yang kerap muncul. Ia harus berpikir banyak dan “ekstra keras” untuk bisa menyelesaikannya sesuai dengan batas waktunya, yang akhirnya bisa saja tidak terselesaikan sesuai dengan yang direncanakan—suatu hal yang menimbulkan stress karena ia sebenarnya bukan pribadi yang imajinatif dan kaya gagasan. Ia perlu dukungan dan masukan gagasan orang lain, tetapi sayangnya enggan berkomunikasi. Ia bukan “pencipta” gagasan, tetapi “perangkai” gagasan yang beragam dan menuangnya ke dalam bentuk-bentuk kreatif.

Dari hasil konseling, terlihat bahwa Ongkie telah masuk ke dalam jalur yang memang sesuai dengan passion-nya, yang bisa membuatnya “bahagia” dalam belajar dan kelak bekerja. Namun, untuk bisa berhasil mewujudkan keinginannya, ia perlu belajar untuk membuat keputusan tentang karya apa yang akan ia hasilkan tanpa terlampau lama menunda. Dan, yang terpenting, fokus pada keputusannya dan mengerjakan “tugas-tugas” apa pun yang harus ia selesaikan dengan cara “mencicil”, sebagian demi sebagian, tidak menunggu hingga last minute. Semua itu penting agar ia tak lagi dibebani keharusan berpikir banyak dan keras untuk menghasilkan karya yang baik. Yang terpenting, untuk sementara, adalah menyelesaikan pendidikan yang telah ia pilih dengan cara yang paling praktis dan efisien. Kualitas bisa ia kembangkan sambil berjalan melalui pengalaman.

Ongkie yang semula datang dengan wajah “kusut”, keluar dari ruang konseling dengan tampilan yang berubah. Ia terlihat berseri-seri, banyak senyum, karena telah mendapatkan jawaban yang “membenarkan” pilihannya dan membantunya untuk “berkarya” dengan cara yang lebih baik—yang semoga dapat mengurangi sakit kepalanya serta membantunya untuk bisa menyelesaikan pendidikannya secara tepat waktu. Berdasarkan kesadaran yang telah muncul pada dirinya, kini ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Zainoel B. Biran ~ Konsultan Senior PT. Daya Insani [Edited by IDS]

_____________________________________________________

It is never too late to be what you might have been. ~ George Eliot

Dengan label: , , ,
Ditulis di Gaya Pribadi MBTI

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*


6 + 9 =