‘Imperfection’

Kali ini saya hendak berbagi pengalaman dari salah satu kasus yang pernah saya tangani, kasus yang kemudian saya catat dengan judul “the imperfection case”. Satu hari di antara hari-hari rutin lainnya, hadir di ruang ‘praktek’ saya seorang gadis yang memasuki usia dewasa dengan senyum ramah dan jabat tangan kuat seolah menggambarkan kepercayaan diri yang tinggi dan ketegasan sikap layaknya wanita dewasa. Gadis ini tadinya adalah seorang mahasiswi yang sempat mengecap kuliah di sebuah perguruan tinggi di luar negeri, dan telah kembali ke Indonesia. Singkat cerita, wanita muda (gadis X) ini kembali karena masalah diri yang mengakibatkan harus dihentikan proses studinya di luar negeri. Sejumlah kelas kuliah dilewatinya hingga melebihi batas yang diijinkan, alhasil ia diberhentikan oleh karena kekosongan kehadiran selama hampir satu semester. Akhirnya setelah melalui beberapa jam konseling, saya dan seorang partner psikolog menyimpulkan sementara bahwa ‘gadis X’ terjebak dalam situasi kepribadian yang belum matang. Sesungguhnya ia remaja cerdas, hanya saja pertumbuhan emosi dan kognitif mentalnya kurang selaras dengan pertumbuhan kecerdasan inteligensinya. Hal ini menghasilkan sejumlah keputusan irasional yang sebenarnya merugikan diri sendiri, sekalipun dia menyadarinya. Keputusan untuk ‘bolos’ didorong oleh keinginannya ‘menyempurnakan’ paket kuliah di semester itu. Menurut pikiran idealnya, kuliah harus dijalani dengan ‘sempurna’ lengkap dan tidak ada yang terlewati. Oleh karena ketidakhadirannya pada beberapa kelas kuliah di awal semester (alasan sakit), ia berpikir tentang ketidaksempurnaan pada kuliah semester tersebut.  Sedikit santai dengan keputusan tersebut, berakibat dikeluarkannya dari kampus. Saat ditanya aktivitasnya selama ia bolos, jawabnya dengan santai, sibuk membaca komik. Luar biasa! Begitu kira-kira respon kami. Seolah tidak nampak adanya penyesalan, atau rasa sayang karena menyiakan kesempatan yang belum tentu dimiliki oleh seribu remaja lainnya di Indonesia! Setelah sejumlah interaksi yang saya susupi dengan pesan ‘mendalam’, akhirnya kami mulai dapat merasakan kebimbangan diri dia yang sesungguhnya. Batu es yang sebelumnya kokoh kini perlahan mencair. Keterbukaan dirinya mulai terlihat dan bahkan mulai menunjukkan indikasi ‘permintaan tolong’.  Kami mulai dapat melihat hubungan antara ‘tipe kepribadian’ nya dengan keputusan-keputusan dan sikap diri yang dijalaninya. Tipe kepribadian dengan idealisme yang disetel sendiri menghasilkan pemikiran, pertimbangan dan keputusan pribadi yang dia pikir tidak terlalu penting untuk dikomunikasikan dengan orang lain bahkan dalam kasus ini dengan pihak kampus ataupun sponsornya. Pertimbangan ‘perfection’ dalam keputusan bolos kuliah hingga hampir satu semester, dan akan menggantinya pada semester berikutnya, adalah permasalahan diri yang menjerumuskan. Dengan pemahaman ini kami lakukan intervensi, untuk kebaikan diri dia di masa mendatang. Salah satu hal yang saya tekankan pada dia berulang-ulang adalah, “It’s okay to be imperfect, since that is the point to become perfect”. Tidak ada ‘perfection’ mutlak, yang ada adalah sejumlah ‘imperfection’ dengan perbaikan dan peningkatan. Jadi tidak ada alasan sesungguhnya untuk men-delay kuliah, yang ada hanyalah alasan pertimbangan idealisme ‘perfection’ yang tidak utuh pemikirannya dan kemudian dijalani dengan pengambilan keputusan sepihak. Intinya, bukan berarti dua-tiga kelas terlewati maka ‘boleh’ sekalian melewati kelas lainnya karena kalau itu dilakukan maka sama halnya mengajarkan diri  dengan mental negatif, destruktif ketimbang konstruktif. Kasus ini mengajarkan saya pribadi banyak hal, terutama pada sisi dimana seseorang menimbang dan mengambil keputusan. Ada saat-saat seseorang ‘membiarkan’ negativitas membimbing pertimbangan dan keputusannya, dan kalau itu terjadi berulang kali atau bahkan menjadi habbit, maka sudah pasti kehidupannya akan selalu diliputi oleh ‘ketidaksadaran’ ini.

 

Ardhana Bayurindra

Posted in Counseling, Training

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


7 + 7 =