Denial

Sesuatu terjadi dalam hidup kita, tetapi tidak kita akui. Kadang sebagian kecil bisa kita terima, atau justru sama sekali tidak. Ada dorongan dalam diri untuk tidak mengakui terjadinya peristiwa hidup itu dengan berbagai pertimbangan personal atau bahkan demi pertimbangan sosial. Sulit bahkan kadang terlampau berat rasanya untuk menerima terlebih mengakui peristiwa hidup itu.

Kadang kita beranggapan bahwa suatu peristiwa buruk atau yang berdampak pada penilaian diri negatif dipandang sebagai aib dan tidak pantas untuk dibahas. Seakan menjadi rahasia diri. Oleh karena itu paling baik disimpan sendiri dalam hati dan pikiran yang paling dalam, kalau perlu ‘diumpetin’ sedalam-dalamnya sampai diri sendiripun tidak bisa mememukannya. Beruntung bila diri sendiri seakan lupa pada peristiwa tersebut. Tapi, apa benar lupa? Atau dengan sengaja melupakan hanya agar pengalaman ini tidak mengusik ketentraman jiwa, psikologis dan mentalnya. Bisa jadi ini pilihan yang dianggap tepat untuk sementara waktu, sayangnya tenggat waktu ini tidak berujung.

Seseorang dengan satu ‘rahasia’ saja bisa galau seumur hidup, apalagi mereka dengan sejumlah rahasia. Galau masih ukuran baik dari segi mental, karena artinya mereka memiliki kesadaran terhadap kenyataan. Namun bila diri tidak lagi terusik, mungkin orang tersebut telah mematikan ‘rasa’ emosinya dan membiarkan itu menjadi bagian dari dirinya hingga seakan menyatu dalam karakter. Tidak lagi ada rasa ‘salah’ terhadap pelanggaran nilai, batas norma, etika, moral. Individu seperti ini tidak lagi utuh psikologisnya.

Denial atau pengingkaran, adalah satu cara praktis untuk menghindari konflik diri dan tidak membutuhkan pemikiran mendalam. Namun idealnya bagi seorang individu yang sehat (memiliki kesadaran terhadap batasan), setiap persoalan yang cenderung mengganggu pikiran dan perasaan harus dapat disikapi, bila mungkin diatasi sedini mungkin. Tidak dibiarkan berlarut hingga keseimbangan intrinsik terganggu. Jangan sampai ulah denial kita menyebabkan kesehatan jiwa menurun akibat distress, dimana stress tidak lagi terkontrol baik.

Mulai sekarang kita harus pandai memilah dan memilih persoalan hidup mana yang perlu mendapatkan porsi perhatian lebih. Sikapi dan atasi secara perlahan, jadikan ini sebagai bagian dari latihan diri untuk mematangkan kepribadian, psikologis dan mental kita. Hidup sehat juga berarti mengelola persoalan kehidupan diri dengan kesadaran penuh.

Bersemangat!

Ardhana Bayurindra

Posted in Counseling, Personal Development

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


5 + 4 =