Bed Rest = Badan + Pikiran Istirahat

Saat BuMil dilanda lelah seharian,tentu pilihan berleha-leha di atas kasur empuk itu menyenangkan. Namun bila dokter kandungan mengharuskan BuMil bed rest demi alasan kesehatan, tiba-tiba kasur layaknya mimpi buruk. Pasalnya, BuMil harus menghabiskan waktu berjam-jam bahkan berbulan-bulan di tempat tidur serta minim aktivitas. Uh, rasanya ‘mati gaya’ plus nelangsa. Ups, bila itu terjadi, jangan biarkan pikiran Anda terbebani oleh bed rest, bisa-bisa memengaruhi kondisi janin, loh! Alasan Medis Memang tidak semua kehamilan berjalan sesuai harapan, seperti yang dialami Agustina Tri Utami. Mulanya, ia hamil anak kembar dan melahirkan prematur akibat air ketuban hampir habis. Sayangnya, si kembar hanya bertahan hidup selama 2 minggu. Selang 6 bulan kemudian, Agustina positif hamil. Namun saat usia kandungannya genap berusia satu bulan, ia mengalami pendarahan hebat di tempat kerja. Untunglah, janinnya selamat. Tetapi beberapa hari kemudian, dia mengalami flek yang mengharuskan dirinya bolak-balik ke rumah sakit. Rupanya, mulut rahimnya lemah dan dokter memberi 2 pilihan: operasi pengikatan mulut rahim (tidak menjamin janin selamat) atau bed rest. Bed rest pun dipilihnya meski dengan konsekuensi harus istirahat total di tempat tidur. Ini berarti, ia dilarang duduk, berdiri, atau jalan. Bahkan kegiatan mandi, makan, maupun BAB/BAK dilakukan dalam posisi berbaring selama 9 bulan 5 hari. Tak urung selama menjalani bed rest, hati Agustina dirundung perasaan cemas. Pengalaman melahirkan sebelumnya membuat ia selalu memikirkan apakah kelak bayinya terlahir dalam kondisi selamat atau tidak. Istirahatkan Pikiran Sah-sah saja bila bed rest adalah istirahat fisik, namun yang kerapkali terlupakan oleh BuMil ialah bahwa pikiran pun harus ‘rest’. Itu sama pentingnya. Tak percaya? Dra. Dini Andiani, Psi dari Daya Insani Konsultan Psikologi, mengutip pernyataan dari Elizabeth B. Hurlock, Ph.D, penulis “Developmental Psychology” bahwa saat BuMil cemas, maka bayinya pun akan cemas selama dalam kandungan (prenatal). Akibatnya, ketika BuMil hendak melahirkan (natal), dia bisa mengalami risiko komplikasi persalinan. Pun setelah bayi lahir (post-natal) rasa cemas itu bisa memengaruhi bayi, seperti anak memiliki sifat hiperaktif, sering menangis. Ini berarti cemas tidak boleh dianggap sepele! “Ya, BuMil musti tahu alasan mengapa dirinya menjalani bed rest. Sehingga, dia dapat menolong dirinya, menaati anjuran dokter untuk meminimalkan risiko. Selain itu, hal-hal lain yang tidak bisa ditangani BuMil, sebaiknya dialihkan pada orang lain,” sarannya mengenai cara mengurangi kecemasan. Dukungan Psikologis dan Fisik Justru yang kerap terjadi saat bed rest, BuMil mengalami lelah fisik juga emosional. Ini pula yang dialami Mutia Hadi. Sejak bulan pertama hingga kehamilan bulan ke-5, dia dianjurkan bed rest total sebab ada riwayat keguguran pada kehamilan pertamanya. Selama bed rest berlangsung, Mutia kerap merasa jenuh, bahkan menangis ketika dia tidak diperbolehkan melakukan kegiatan lain, kecuali tidur-tiduran. “Ketika menjalani bed rest, akan muncul perasaan lonely atau diasingkan yang mengakibatkan tekanan psikologis pada BuMil. Karena itu, dukungan dari pihak di luar BuMil, seperti suami, orangtua, saudara, atau teman, dapat meringankan bebannya,” sambung psikolog kelahiran 29 Desember ini. Dukungan suami sangat diperlukan bagi sang istri. Hadi Pahriadi, suami Mutia Hadi, yang memberikan perhatian dan kasih sayang sejak dari awal kehamilan hingga usia kandungan istrinya lima bulan, membuat beban pikiran Mutia menjadi berkurang. Bahkan, lelaki itu tak segan-segan mengerjakan hal yang biasa dikerjakan istrinya seperti memasak dan menyuci piring. “Saat menunggu kelahiran bayi, pasangan suami-istri hendaknya bersikap pasrah. Artinya, menyerahkan semua kepadaNya terhadap kondisi yang tidak bisa dikendalikan di masa datang. Sehingga, pasangan istri-suami, utamanya BuMil, merasakan kedamaian di hati,” ingat Dini. Alihkan Kegiatan ke Atas Tempat Tidur Menghabiskan waktu lebih banyak di tempat tidur, tentu membosankan. Bahkan, tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga atau pekerjaan kantor pun terbengkalai begitu saja. “Lambat laun, BuMil merasa tersisih alias merasa tidak dibutuhkan lagi. Dan solusinya ialah memindahkan aktivitas yang biasa dilakukan BuMil ke atas tempat tidur,” ujar psikolog urusan Universitas Indonesia ini. Walau sebagian besar tanggung jawab rumah tangga sudah dialihkan kepada suami, misalnya, bukan berarti BuMil tidak ikut andil dalam mengurus rumah tangga. Sebagai contoh, bila memiliki anak usia sekolah, mintalah anak datang ke kamar BuMil dan ajarilah dia dari atas tempat tidur. Atau dalam mengurus keperluan bulanan, suami dapat melaporkan apa saja yang sudah dibelanjakan kepada BuMil. Nah, bagi BuMil yang bekerja, dapat pula mengerjakan tugas kantor dengan menggunakan fasilitas internet. Selain itu, internet bisa digunakan pula untuk mencari community yang pernah atau sedang mengalami bed rest. Ini menjadi ajang silaturahmi bagi sesama BuMil yang bed rest untuk menyampaikan keluh kesah, juga saling menguatkan satu sama lain. Berdandan Cantik Walau seharian di tempat tidur, bukan berarti BuMil sah-sah saja tampil kusut. Tak perlu terlihat lusuh – misalnya selalu memakai daster – akan tetapi bergayalah dengan mengenakan pakaian yang modis dan nyaman di badan sehingga BuMil tidak terlihat pucat. Dengan begitu, orang lain pun akan merasakan semangat dalam diri BuMil, “Ketika BuMil menampilkan citra diri yang bagus, justru Moms memberikan reaksi positif bagi diri sendiri,” tutup Dini. Dra. Dini Andiani, Psi. Psikolog Daya Insani Artikel diambil dari Mom & Kiddie Edisi 6 Thn. V 2010 “Love begins at home, and it is not how much we do…but how much love we put in that action.” – Mother Teresa

Tagged with: , , ,
Posted in Media Posting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


3 + 9 =

WhatsApp chat