Apakah Selalu Menyeramkan?

Mondok di rumah mertua, apakah memang selalu menjadi mimpi buruk bagi pasutri? Ternyata jawabannya tidak. Mau tahu bagaimana resepnya?

Beragam alasan pasutri kenapa harus tinggal di rumah mertua, bisa karena faktor psikologis, ataupun keuangan. Yang pasti, apapun penyebabnya, tidak sedikit menantu yang langsung menolak tegas begitu diajak tinggal di rumah mertua. Bisa jadi, ini disebabkan aneka cerita yang berkembang di masyarakat dan juga film-film yang menggambarkan tentang ‘kecerewetan’ mertua.

Yang paling sering dilanda perasaan seperti itu tentunya menantu perempuan. Tak jarang dari mereka beranggapan tinggal di rumah mertua itu bagaikan mimpi buruk. Yang jadi obyek ketakutan mereka apalagi kalau bukan sosok ibu mertua. Memang pada kenyataannya, tak jarang menantu perempuan selalu bersitengang dengan ibu mertuanya, apalagi kalau mereka tinggal serumah. Alhasil, banyak yang mengakui permasalahan hubungan dengan mertua bisa menjadi pemicu konflik antara pasturi.

Menurut Dra. Hastari Z. Biran, Psi, rumor yang berkembang di masyarakat memang selalu menggambarkan hubungan antara menantu perempuan dan ibu mertuanya yang tidak harmonis. “Padahal itu semua adalah masalah komunikasi. Nah, tugas pasangan yang berstatus ‘anak’ di rumah itulah, yang harus pandai menjadi ‘pendamai’ antara pasangannya dengan orang tuanya. Usahakan agar kedua belah pihak itu bisa menjadi teman,” tukas psikolog Hastari.

Tempat Pilihan

Bagi pasangan muda yang belum memiliki rumah sendiri, tinggal di rumah mertua atau kontrak rumah, adalah solusi yang salah satunya harus dipilih. Dan, menurut psikolog Hastari, hal tersebut harus sudah dipikirikan sebelum pasangan memutuskan untuk menikah. “Harus ada kesepakatan bersama sebelum menikah, pasangan akan tinggal di mana. Apapun kesepakatannya, pasutri harus sama-sama paham dan siap menghadapi segala risiko. Sehingga, penyelesaian akhirnya harus membuat hubungan antar pasangan semakin kuat,” ucapnya.

Untuk pilihan tempat tinggal, lanjut psikolog senior di PT. Daya Insani ini, memang yang terbaik adalah memilih untuk kontrak rumah. Karena, pasangan suami-istri itu dianggap sudah dewasa dan siap untuk menjalani hidup bersama-sama dengan segala keinginan, masalah, tanggung jawab dan risiko yang akan mereka hadapi bersama. “Dari segi tumbuh kembang manusia, mereka sudah pada taraf kebutuhan menampilkan diri seutuhnya untuk berkarya, berprestasi, berkeluarga, bermasyarakat dan menjalani kehidupan menuju cita-cita bersma pasangan.”

Nah realisasi dari kebutuhan-kebutuhan ini akan menimbulkan rasa puas, bangga dan semakin memantapkan pengembangan diri pasangan dalam hal intelektual, emosional, sosial dan mungkin juga spiritual. Dan, untuk merealisasikan kebutuhan-kebutuhan ini memang diperlukan suasana lingkungan yang dirasa nyaman secara fisik, sekaligus terasa bebas secara emosional.

Dan di rumah kontrak, lanjut psikolog Hastari, suasana lingkungan bisa mendukung pengembangan diri tersebut, dengan catatan bahwa pemilihan rumah dan lokasinya disepakati bersama oleh pasangan. Dan, keuangan mereka betul-betul mendukung untuk biaya kontrak, biaya hidup sehari-hari (termasuk biaya listrik, telepon, transportasi, kesehatan dan lain-lain) serta tabungan yang sudah siap bila setahun kemudian lahir bayi buah cinta mereka.

Namun bila yang terjadi, pilihannya adalah harus mondok di rumah mertua, minimal memang akan muncul unggah-angguh, artinya ada pamit dan ijin. Pamit dan minta restu pada orang tua sendiri, bahwa akan tinggal di rumah mertua. Sebaiknya juga minta ijin pada mertua, maupun adik atau kakak ipar (bila ada) bahwa akan tinggal bersama dengan mereka.

Karena seperti dikatakan psikolog Hastari, bahwa adat di nergeri kita ini, pernikahan dua orang manusia berarti ‘pernikahan’ dua keluarga (besar). Karena itu dibutuhkan kepandaian komunikasi dari pasutri, untuk menjaga hubungan baik antara dua keluarga besar mereka. Kepada orang tua yang (sebagian) rumahnya akan ditempati oleh anak dan pasangannya pasti harus diminta ijin lebih dulu, juga kepada anak-anak mereka (kakak/adik pasangan), baik yang masih tinggal di rumah itu maupun yang tidak.

Dalam hal ini si pasangan harus pandai dan peka membaca situasi mengenai tingkat persetujuan atau penerimaan terhadap kehadiran mereka di rumah tersebut, oleh kedua orang tua, maupun anak-anaknya yang lain. “Kepekaan pasangan dalam membaca situasi ini diperlukan agar mereka berdua bisa mempersiapkan diri mencegah timulnya masalah di kemudian hari, terkait dengan keberadaan mereka di rumah itu,” kata psikolog Hastari.

Harus Serba ‘Pandai’

Bersatunya dua anak manusia yang berlainan latar belakang, suku, hingga budaya, bukannya tidak menimbulkan masalah begitu mondok di rumah mertua. Namun kondisi ini dapat diredam, jika pasangan:

  • Pandai menahan diri dalam berkata-kata
  • Pandai mengelola emosi
  • Pandai menenggang rasa
  • Pandai menangkap situasi dan bikin solusinya
  • Pandai mendengar
  • Pandai menempatkan diri di pihak lain
Nah, selama kepandaian-kepandaian ini tidak ada sama sekali atau belum cukup, “Tentunya akan banyak masalah yang akan dihadapi,” jelas psikolog kelahiran 19 November 1947.

Masalah yang biasanya muncul biasanya dipicu dari biaya rumah tangga (listrik, telepon, makan-minum, gaji pembantu), masalah perilaku, kebiasaan-kebiasaan, dan tingkan laku yang berbeda-beda misalnya: cara berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar, cara makan, cara menerima tamu, bertelepon, dan lain sebagainya, sampai masalah merawat dan mendidik anak.

Nah disinilah tentu diperlukan jurus jitu guna menyikapi agar tidak terjadi pergesekan atau konflik antara menantu dan mertua. Setiap kali ada gejala akan timbul masalah, kuncinya adalah pandailah mempelajari dan mendapatkan inti dari masalah, untuk memudahkan penyelesainnya. Selain itu, banyaklah berdiskusi dengan pasangan untuk menyelesaikan masalah ini. Tujuan dari diskusi antar pasangan adalah, selain menjajaki tingkat penyelesaian masalah, juga untuk turut merasakan apakah hati pasangan kita sudah tenteram atau belum. “Jadi dalam hal ini, kunci sukses tinggal di pondok mertua indah adalah adanya tekad dari pasangan yang berstatus ‘anak’ di rumah itu, untuk menjadi juru damai, ditambah si menantu juga harus aktif mempelajari hal-hal yang pas atau tidak pas di hati mertua, dan selalu berusaha menjaga hati mereka,” tegas psikolog Hastari.

Dra. Hastari Z. Biran, Psi.

Psikolog Senior dari Daya Insani, Konsultan Psikologi & Hipnoterapi, Jakarta

Artikel diambil dari Mom Dad & I, Edisi 07, Tahun III, Mei 2011

“A successful marriage requires falling in love many times, always with the same person.”Mignon McLaughlin

Dengan label: , , , ,
Ditulis di Artikel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*


4 + = 10