Anakku Kok Nggak Mau Nurut, Ya…

“Nggak mau! Icha nggak mau mandi!,” keukeuh seorang bocah perempuan berusia 4 tahun yang disuruh Bundanya mandi karena harus berangkat ke Taman Kanak-kanak. “Icha, ayo dong sayang mandi. Sebentar lagi jemputan datang loh,” rayu sang Bunda. Sambil pasang muka cemberut Icha menjawab, “Nggak! Pokoknya Icha nggak mau!”

Pembentukan Kepribadian

Seberapa sering Anda mendapati si kecil mengucapkan kata-kata TIDAK, NGGAK, geleng-geleng kepala, atau malah diam saja tak menghiraukan. Wah, rupanya si kecil sedang ngambek dan mulai mencobai Anda. Mencoba-coba? Ya! Ternyata, ketika anak mencapai usia 3 tahun, muncul rasa ingin tahu sampai di mana batasan toleransi orangtua. Mulailah mereka berani bilang tidak.

Lima tahun pertama usia anak adalah pondasi pembentukan kepribadian di kemudian hari. Kehidupan emosi dan kualitas hubungan antar pribadi menjadi landasan bagi perkembangan kepribadian selanjutnya.

Menurut pakar psikologi Erik H. Erikson, pada masa balita juga berlangsung perkembangan moral. Ia mulai mengetahui kemampuannya dan bisa mengambil inisiatif tindakan. Ternyata tindakan tersebut tidak selamanya berkenan bagi orang dewasa di sekitarnya. Pada saat inilah anak membutuhkan orang lain untuk menguji tindakannya apakah benar atau salah.

Tahapan ini disebut masa genital-locomotor. Saat di mana terlihat perilaku anak yang seolah-olah tidak patuh. Ini merupakan saat tepat untuk menanamkan dan mendidik anak perihal norma-norma sosial sederhana.

Aturan Main yang Jelas

Dari awal perlu ada kesepakatan antara Ayah dan Ibu untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak bagi anak. Aturan mainnya harus sama. Dengan begitu, tidak membuat anak bingung. Ibu bilang tidak, kok Ayah bilang boleh. Jangan sampai anak melihat pertentangan antara orangtua. Konflik ini akan membuat anak memanfaatkan situasi.

Dalam menerapkan aturan, seluruh anggota keluarga termasuk pengasuh, atau kalau di rumah ada Oma-Opa, harus dilibatkan juga. Jelaskan baik-buruknya, alasan-alasannya, konsekuensinya, sehingga aturan ayah-ibu sama dengan aturan Oma-Opa atau si mbak.

Cerminan Orangtua

Akar persoalan anak kembali lagi ke diri orangtua. Berkacalah! Apakah selama ini Anda sudah menjadi role model yang baik bagi anak? Sadari, apakah Anda sebagai pasangan istri-suami sudah berbagi peran dengan baik? Ayah tidak menyepelekan ibu, Ibu tidak mendominasi peran ayah. Saling menghargai, itu kuncinya. Menghargai peran masing-masing di dalam keluarga.

Bagaimana anak mau menghargai Ibunya jika sang Ayah saja suka berlaku semena-mena kepada Ibu. Membentak Istri di depan anak-anak, atau bahkan melakukan kekerasan fisik seperti memukul misalnya? Mulailah dengan mengubah diri sendiri. Hargai pasangan.

Zulvianti Zulyadi, Psi.

Psikolog Daya Insani

Artikel diambil dari Mom & Kiddie Edisi 13 Thn. III 2009

“Children are educated by what the grown-up is and not by his talk.”Carl Jung

Dengan label: ,
Ditulis di Artikel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*


2 + 5 =